KUPAS BANJAR HADIRKAN TEROBOSAN PERENCANAAN PENANGANAN STUNTING YANG LEBIH TEPAT SASARAN
MARTAPURA – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar terus diperkuat melalui berbagai inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah strategis tersebut terlihat dalam kegiatan Rapat Koordinasi Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II yang dilaksanakan pada Kamis (7/5/2026) di Aula Bappeda Litbang Kabupaten Banjar. Kegiatan ini dihadiri oleh SKPD teknis percepatan penurunan stunting, perwakilan petugas gizi puskesmas, kader posyandu, serta Tim INEY II Politeknik Kesehatan Kemenkes Banjarmasin.
Namun demikian, perhatian utama peserta rapat tertuju pada sosialisasi inovasi daerah bertajuk KUPAS Banjar (Kamus Usulan Perencanaan Atasi Stunting Kabupaten Banjar) yang diperkenalkan sebagai salah satu langkah pembaruan dalam memperkuat kualitas perencanaan program penanganan stunting di Kabupaten Banjar.
KUPAS Banjar merupakan inovasi yang digagas oleh Perencana Muda Bapperida Kabupaten Banjar, Sihabuddin, sebagai solusi terhadap masih ditemukannya usulan kegiatan penanganan stunting yang belum sepenuhnya terarah, belum terintegrasi, dan sering kali belum sesuai dengan lokus serta kelompok sasaran prioritas percepatan penurunan stunting.
Melalui inovasi ini, pemerintah daerah menghadirkan sebuah kamus atau panduan usulan program dan kegiatan yang memuat rekomendasi intervensi spesifik maupun sensitif penanganan stunting. KUPAS Banjar disusun secara sistematis dengan mengacu pada kelompok sasaran prioritas, mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, hingga penguatan kapasitas kader posyandu.
Dalam paparannya, disampaikan bahwa KUPAS Banjar hadir untuk menjawab tantangan perencanaan pembangunan yang sering kali mengalami ketidaksinkronan antara permasalahan lapangan dengan usulan kegiatan. Dengan adanya panduan tersebut, SKPD dan pemangku kepentingan diharapkan mampu menyusun program yang lebih tepat sasaran, terukur, dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Selain menjadi instrumen perencanaan, KUPAS Banjar juga dinilai mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam penanganan stunting. Selama ini, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sanitasi, ketahanan pangan, perlindungan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat. Kehadiran KUPAS Banjar membantu menyatukan persepsi antar perangkat daerah sehingga arah kebijakan dan intervensi menjadi lebih terpadu.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari peserta rapat karena dinilai sangat membantu dalam proses penyusunan usulan program, terutama pada tahapan perencanaan daerah. Perwakilan tenaga gizi dan kader posyandu menyampaikan bahwa pendekatan yang digunakan dalam KUPAS Banjar lebih mudah dipahami karena disusun berdasarkan kelompok sasaran dan kebutuhan intervensi di lapangan.
Di sisi lain, kegiatan rapat koordinasi juga membahas keberlanjutan Program INEY Fase II tahun 2026 yang akan kembali melaksanakan pendampingan di Kabupaten Banjar melalui Tim INEY II Poltekkes Kemenkes Banjarmasin. Program ini berfokus pada peningkatan intervensi spesifik bagi remaja putri, ibu hamil, bayi, balita, dan kader posyandu selama periode tahun 2024 hingga 2028.
Melalui forum tersebut, Tim INEY menyampaikan pentingnya penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas layanan gizi dan kesehatan ibu anak. Pendampingan yang dilakukan nantinya diharapkan mampu mendukung pencapaian target percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar secara lebih optimal.
Bappeda Litbang Kabupaten Banjar menegaskan bahwa inovasi KUPAS Banjar akan terus dikembangkan sebagai instrumen perencanaan daerah yang adaptif dan aplikatif. Ke depan, inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi panduan teknis, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun budaya perencanaan yang lebih efektif, efisien, dan berdampak langsung terhadap masyarakat.
Dengan hadirnya KUPAS Banjar, Kabupaten Banjar menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi nyata untuk menjawab persoalan stunting secara terintegrasi. Kolaborasi antara inovasi daerah dan dukungan program nasional seperti INEY Fase II menjadi langkah strategis dalam menciptakan generasi Banjar yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas di masa mendatang.(Ione/Brigade Bapperida)
Source:: BAPPEDA
